Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Pelumasan Pada Diesel

Kali Ini  Akan Membahas Tentang Sistem Pelumasan Pada Diesel Yang Akan Kami Ulas Selengkap Mungkin Agar semua yang membaca dapat memahami Artikel ini


Masuk kepada pembahasan, sistem pelumas memegang peranan yang sangat penting dalam perancangan dan operasi suatu mesin baik statis maupun bergerak. Masa pakai suatu pelumas sangat tergantung pada kualitas pelumas, kondisi mesin, medan operasi, beban dan lingkungan serta sistem perawatan yang dijalankan. Fungsi utama dari pelumasan pada setiap peralatan yang bergerak adalah untuk mencegah terjadinya gesekan antar logam, keausan logam dan kehilangan tenaga mesin.

Adapun komponen utama dalam sistem pelumasan adalah tempat penyimpanan minyak pelumas (oil pan), pompa oli (oil pump), saringan (strainer), saringan oli (oil filter), pipa-pipa saluran minyak, dan pengaturan tekanan minyak pelumas agar sampai kepada bagian-bagian yang memerlukan pelumasan. Bagian-bagian di dalam mesin yang bergerak sudah pasti memerlukan pelumasan, hal ini bertujuan supaya komponen – komponen mesin tidak cepat aus, mengurangi panas yang timbul, kinerja mesin tetap terjaga dan melancarkan komponen – komponen mesin yang bergerak.

Fungsi utama pelumas pada mesin diesel diantaranya :
-Melumasi
Pelumas harus mengurangi/mencegah gesekan (friction) antara permukaan komponen logam yang bergerak didalam mesin diesel.
-Mendinginkan
Sekitar 5 – 10% panas yang ditimbulkan akibat proses pembakaran bahan bakar minyak di dalam mesin diserap oleh pelumas, kemudian panas tersebut akan dilepas ke udara melalui pendingin oli (radiator) atau tempat penampungan oli.
-Penyekat (Sealing)
Pelumas harus dapat berfungsi sebagai penyekat (sealing) yang efektif antara piston dan dinding silinder sehingga dapat mencegah gas dari ruang bakar masuk ke dalam crankcase.
-Melindungi logam dari korosi
Pelumas harus mampu menetralisir zat-zat korosif dari hasil proses pembakaran di dalam mesin supaya logam tidak korosif.
-Membersihkan
Pelumas harus bisa membersihkan kotoran-kotoran yang timbul akibat proses pembakaran di dalam mesin.

Perbedaan Messin Diesel Dengan Messin Bensin:


Perkiraan Suhu Dalam Ruang Mesin Bakar:


Ilustrasi Bagian Mesin Diesel

Berikut komponen – komponen pada sistem pelumasan motor diesel

Saringan Oli (Strainer)

Saringan Oli Adalah saringan oli yang dipasangkan pada saluran masuk oli ke pompa yang berfungsi untuk menyaring benda – benda kasar agar pompa tidak rusak. Komponen ini terdapat di dalam bak penampung oli (oil pan).

Bak Penampung Oli (Oil Pan)

Oil Pan Adalah tempat penampung minyak pelumas yang akan disirkulasikan oleh pompa oli ke dalam mesin.

Pompa Oli (Oil Pump)

Pompa Oli Adalah berfungsi untuk menghisap dan menekan minyak pelumas ke bagian – bagian mesin yang memerlukan pelumasan. Minyak pelumas yang dihisap terlebih dahulu disaring oleh saringan oli (strainer).

Saringan Oli (Oil Filter)

Saringan Oli Adalah komponen sistem pelumas yang berfungsi untuk menyaring kotoran – kotoran halus dalam oli agar tidak merusak bearing dan bagian – bagian mesin yang presisi. Filter oli ini juga dilengkapi dengan katup pengaman (by pass valve) yang berguna untuk menyalurkan langsung minyak pelumas ke bagian – bagian mesin apabila saringan oli tersumbat.

Pengatur Tekanan Oli (Oil Pressure Switch)

Pengatur Tekanan Oli Adalah bagian sistem pelumasan yang berguna untuk mensensor tekanan minyak pelumasan. Alat ini dipasangkan pada saluran utama dan juga dihubungkan dengan lampu dial indicator. Sehingga jika lampu menyala , pengemudi akan tau bahwa tekanan minyak pelumas rendah. Sedangkan jika lampu mati maka tekanan minyak pelumasan adalah normal.

Sistem Pelumasan Mesin Diesel:
Sistem pelumasan pada mesin diesel pada prinsipnya sama dengan pelumasan yang ada pada mesin bensin. Mesin diesel relatif lebih banyak menghasilkan arang karbon dari pada mesin bensin karena proses pembakaran yang terjadi akibat udara panas bertekanan tinggi. Dalam istilah lain mesin diesel disebut juga dengan sistem proses pembakaran yang tidak sempurna. Oleh karena itu pada mesin diesel diperlukan saringan oli (oil filter) yang dirancang khusus. Sistem pelumasan mesin diesel dilengkapi dengan pendingin oli (oil cooler) untuk mendinginkan minyak pelumas, karena mesin diesel temperatur kerjanya sangat tinggi dan bagian-bagian yang bergerak juga kerjanya lebih berat dari pada yang ada pada mesin bensin.

Mesin diesel membutuhkan minyak pelumas atau oli yang jenisnya berbeda dengan minyak pelumas pada mesin bensin, Jadi pastikan bahwa minyak pelumas yang anda gunakan jenisnya tepat. Apabila minyak pelumas mesin bensin digunakan pada mesin diesel, maka mesin akan cenderung cepat aus yang nantinya akan berujung dengan kerusakan dan penggantian komponen-komponen mesin.

Sistem pelumasan pada mesin diesel dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
a. Sistem Pelumasan Kering
Penampung pelumas berada diluar sistem mesin atau sering disebut dengan istilah “sump tank”. Sistem pelumasan seperti ini tidak menggunakan bak penampung minyak pelumas oil pan), tetapi langsung terhubung ke tangki tersendiri diluar sistem mesin diesel. Minyak pelumas yang jatuh ke dalam sump, selanjutnya dialirkan dengan pompa, melalui sebuah filter, dan dikembalikan lagi ke dalam tangki supply yang terletak diluar dari pada sistem mesin diesel. Pompa ini mempunyai kapasitas yang besar, sehingga dapat mengosongkan sama sekali pelumas yang ada di-sump-nya.


Gambar 1.2 – Ilustrasi Sistem Pelumasan Kering

Pada umumnya dengan sistem ini dipergunakan juga sebuah oil cooler, baik yang menggunakan air atau udara sebagai media pendingin untuk keperluan pendinginan dari pada minyak pelumas.

b. Sistem Pelumasan Basah

Penampung pelumas berada didalam mesin
Tipe sistem pelumasan basah yang umum digunakan ialah:
(Carter atau Crankcase). Sistem pelumasan basah adalah sistem pelumasan motor yang memanfaatkan karakternya sebagai penampung minyak pelumas. Dalam sistem ini, dibagian bawah dari pada karter ada sebuah piringan (pan) yang juga berfungsi sebagai tangki supply dan ada kalanya sebagai alat pendingin untuk minyak pelumasnya. Minyak pelumas yang jatuh menetes dari silinder-silinder dan bantalan-bantalan, kembali ke tempat ini, untuk selanjutnya dialirkan kembali dengan sebuah pompa minyak kedalam sistem pelumasanya lagi.

Tipe sistem pelumasan basah yang umum digunakan ialah:

1 .Sistem Pelumasan Campur (Mix)
Sistem pelumasan campur adalah salah satu sistem pelumasan mesin dengan cara mencampur langsung minyak pelumas (oli campur atau samping) dengan bahan bakar (bensin) sehingga antara minyak pelumas dan bahan bakar bercampur di tangki bahan bakar.

2. Sistem Pelumasan Autolube
Sistem pelumasan autolube, oli samping atau campur masuk kedalam ruang engkol dipompakan oleh pompa oli. Sehingga penggunaan oli samping atau campur ini lebih efektif sesuai kebutuhan mesin. Sistem pelumasan ini digunakan pada mesin 2 tak. Oli samping atau campur yang masuk ke dalam ruang engkol tergantung dari jumlah putaran dan pembukaan katup masuk (Reet Valve).

3. Sistem Pelumasan Percik
Sistem pelumasan percik adalah sistem pelumasan dengan memanfaatkan gerakan dari bagian yang bergerak untuk memercikan minyak pelumas ke bagian-bagian yang memerlukan pelumasan, misal: Poros engkol berputar sambil memercikan minyak pelumas untuk melumasi dinding silinder. Sistem pelumasan ini biasanya digunakan pada mesin dengan katup samping (Side Valve) dan kapasitas kecil

4. Sistem Pelumasan Tekan.
Minyak pelumas di dalam karter dihisap dan ditekan ke dalam bagian-bagian yang dilumasi dengan menggunakan pompa oli. Sistem pelumasan ini sangat cocok untuk melumasi bagian – bagian mesin yang sangat presisi. Aliran minyak pelumas tergantung pada jumlah putaran mesin, hal ini dikarenakan pompa oli diputarkan oleh mesin. Sistem pelumasan ini digunakan pada mesin 4 tak dan memiliki kelebihan pelumasan merata dan teratur. Minyak pelumas yang telah melumasi bagian – bagian mesin akan kembali ke karter kembali.

Pelumas dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang berada diantara dua permukaan yang bergerak secara relatif agar dapat mengurangi gesekan antar permukaan tersebut. Minyak pelumas memiliki beberapa sifat fisik penting yang diantaranya adalah :

Viscosity
Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas adalah pengukuran dari mengalirnya bahan cair dari minyak pelumas, dihitung dalam ukuran standard. Makin besar perlawanannya untuk mengalir, berarti makin tinggi viscosity-nya, begitu juga sebaliknya.

Viscosity Index
Tinggi rendahnya indeks ini menunjukkan ketahanan kekentalan minyak pelumas terhadap perubahan suhu. Makin tinggi angka indeks minyak pelumas, makin kecil perubahan viscosity-nya pada penurunan atau kenaikan suhu. Nilai viscosity index ini dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

HVI (High Viscosity Index) di atas 80.
MVI (Medium Viscosity Index) 40 – 80.
LVI (Low Viscosity Index) di bawah 40.
Flash Point
Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah pada waktu minyak pelumas menyala seketika. Pengukuran titik nyala ini menggunakan alat-alat yang standard, tetapi metodenya berlainan tergantung dari produk yang diukur titik nyalanya.

Pour Point
Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir dan kemudian menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk minyak pelumas yang dalam pemakaiannya mencapai suhu yang dingin atau bekerja pada lingkungan udara yang dingin.

Total Base Number (TBN)
Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas terhadap pengaruh pengasaman, biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil). Setelah minyak pelumas tersebut dipakai dalam jangka waktu tertentu, maka nilai TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau diesel, penurunan TBN ini tidak boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik diganti dengan minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah tidak ada.

Carbon Residue
Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan pada suatu tes khusus.

Density
Menyatakan berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperatur tertentu.

Emulsification dan Demulsibility
Sifat pemisahan oli dengan air. Sifat ini perlu diperhatikan terhadap oli yang kemungkinan bersentuhan dengan air.

Selain ciri-ciri fisik yang penting seperti telah dijelaskan sebelumnya, minyak pelumas juga memiliki sifat-sifat penting, yaitu:

Sifat kebasaan (Alkalinity)
Untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk karena pengaruh dari luar (gas buang) dan asam-asam yang terbentuk karena terjadinya oksidasi.

Sifat detergency dan dispersancy
Sifat detergency: Untuk membersihkan saluran-saluran maupun bagian-bagian dari mesin yang dilalui minyak pelumas, sehingga tidak terjadi penyumbatan.
Sifat dispersancy: Untuk menjadikan kotoran-kotoran yang dibawa oleh minyak pelumas tidak menjadi mengendap, yang lama-kelamaan dapat menjadi semacam lumpur (sludge). Dengan sifat dispersancy ini, kotoran – kotoran tadi dipecah menjadi partikel – partikel yang cukup halus serta diikat sedemikian rupa sehingga partikel – partikel tadi tetap mengembang di dalam minyak pelumas dan dapat dibawa di dalam peredarannya melalui sistem penyaringan. Partikel yang bisa tersaring oleh filter, akan tertahan dan dapat dibuang sewaktu diadakan pembersihan atau penggantian filter elemennya.
Sifat tahan terhadap oksidasi
Untuk mencegah minyak pelumas cepat beroksidasi dengan uap air yang pasti ada di dalam karter, yang pada waktu suhu mesin menjadi dingin akan berubah menjadi embun dan bercampur dengan minyak pelumas. Oksidasi ini akan mengakibatkan minyak pelumas menjadi lebih kental dari yang diharapkan, serta dengan adanya air dan belerang sisa pembakaran maka akan bereaksi menjadi H2SO4 yang sifatnya sangat korosif.

Tidak ada yang sempurna dalam dunia ini, karena setiap umat manusia sudah selayaknya melakukan suatu kesalahan, tinggal kita saja yang bisa menyikapi dan membenahi diri ini agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam waktu lain. Adapun kendala yang dirasakan praktikan selama kegiatan praktikum ini adalah:

Entah apa yang membuat hal ini, tapi acara ini terkesan membuat komposisi 2 acara menjadi 1 acara, sehingga membuat pembahasan terlalu banyak karena terbagi menjadi 2 acara. Untuk kedepannya lebih baik bila tiap satu pertemuan satu acara sehingga praktikan dapat lebih fokus terutama dalam pembuatan laporannya.
Pembuatan accan yang membingungkan karena terbagi menjadi 2 acara.
Dalam kegiatan praktikum asisten terlihat melempar begitu saja kegiatan kepada praktikan tanpa ada pengawasan yang cukup kondusif, walau beberapa praktikan terlihat sangat antusias namun sebagian tidak. Ada baiknya seluruh praktikan dapat ikut andil dalam acara ini nantinya.
Terlihat alat yang digunakan sudah begitu lama sehingga membuat beberapa mur atau baut terlihat tua dan rawan dalam kerusakan akibat karat. Ada baiknya menggunakan alternatif alat bantu yang serupa namun tidak menghilangkan hal – hal yang harus diketahui dalam kegiatan acara praktikum ini.
Terimakasih Sudah Mengunjungi  Semoga Ilmu tentang sistem pelumasan diesel Yang Kami Berikan Bermanfaat Bagi Kalian Semua
Salam Otomotif.

close